Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 April 2012

TIDAK MENGIKUTI YANG KEBANYAKAN (MAYORITAS) ADALAH TANDA DARI IMAN DAN AKAL SEHAT


Allah menunjukkan tujuan di balik kehidupan dunia ini dalam ayat 2 dari Surat al-Mulk,“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. 67:2)” Tanpa ada pengecualian, karena itu, semua orang mengalami ujian. Banyak orang, bagaimanapun, lupa bahwa tujuan di balik kehadiran mereka di dunia ini adalah untuk diuji oleh Allah. Orang-orang yang menyibukkan diri mereka dengan urusan-urusan dangkal dari kehidupan dunia ini dan yang mencari harta, kekayaan dan kesenangan sementara di dunia sebagai seluruh tujuan mereka dalam hidup, daripada menggunakan mereka untuk memperoleh Ridha Allah, melengkapi kehidupan singkat mereka tanpa pernah memegang kebenaran yang Allah telah ungkapkan dalam Al-Quran dan mati dalam keadaan keadaan Jahil. Kenyataannya adalah, bagaimanapun, bahwa "kehidupan nyata" adalah kehidupan kekal kita di Akhirat. Kehidupan dunia ini adalah tempat kita diuji untuk waktu singkat. Allah menyatakan dalam beberapa ayat Al-Qur'an bagaimana kebanyakan orang mengabaikan kebenaran ini dan berpaling dari jalan yang Dia telah memanggil mereka:
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS. 6:116)”
Kecuali orang-orang yang menggunakan kehendak bebas dan hati nurani, mereka mungkin jatuh ke dalam kesalahan berpikir "aku harus melakukan apa pun yang orang lain kebanyakan lakukan." Ini adalah salah satu metode yang digunakan setan untuk mengalihkan manusia dari jalan Allah. Ketika ia sedang dikeluarkan dari surga untuk kebanggaan dan kelebihan, setan bertanya kepada Allah untuk suatu periode waktu di mana untuk menyesatkan orang dan bersumpah bahwa dia akan menyesatkan banyak dari mereka. Ayat-ayat berikut Al-Qur'an menggambarkan:
Allah berfirman: Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, (QS. 15:34)
dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat. (QS. 15:35)
Berkata iblis: Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. (QS. 15:36)
Allah berfirman: (Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh, (QS. 15:37)
sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. (QS. 15:38)
Iblis berkata: Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan masiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (QS. 15:39)
kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka. (QS. 15:40)
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayat ini, Tujuan setan sebenarnya adalah untuk menyesatkan semua orang. Setan, dengan se izin Allah yang mencoba untuk tercapainya tujuan jahat ini, sebenarnya adalah makhluk di bawah kekuasaan Allah dan melakukan segala yang dilakukannya dengan kehendak-Nya.  Allah telah menciptakan setan sebagai kekuatan negatif untuk menguji manusia. tugas daripada Setan adalah berperan dalam orang-orang yang telah diciptakan untuk berakhir di Neraka tempat mereka berasal. Sebagai tanggapan terhadap hal ini, Allah telah memberikan manusia hati nurani yang perintah kebaikan dan keindahan, dan telah sama sekali waktu ditunjukkan jalan orang-orang yang benar melalui Kitab Suci dan para nabi.
Setan bisa mengambil berbagai samaran saat ia mengundang orang ke dalam api neraka. Dia mungkin akan muncul bagi satu orang sebagai teman seharusnya dan mengundang dia untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Qur'an atau datang dengan dalih baginya untuk menampilkan nilai-nilai moral yang buruk. Yang tersisa tidaklah terpengaruh oleh bujukan ini dan untuk memilih cara yang baik, "bahkan jika orang kebanyakan pergi bersama-sama dengan mere" adalah tanda iman dan kebijaksanaan. Allah menggunakan setan untuk menguji orang-orang dalam semua jalan, dan mereka semua adalah ujian bagi  Takdir orang-orang itu sendiri. Jalan orang-orang yang beriman, sadar akan tipu muslihat setan untuk menipu dan memperdayakan orang, dan tidak pernah menyimpang dari jalan yang benar, digambarkan sebagai berikut dalam Al Qur'an:
"Katakanlah: Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): Marilah ikuti kami. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Rabb semesta alam, (QS. 6:71)
Sebagaimana tercantum dalam ayat, ketika seseorang muncul dalam bentuk seorang teman dan mengeluarkan ajakan yang buruk "Ikutlah kepada kita, jalan yang benar" orang yang sebenarnya sedang digoda diharapkan masuk perangkap setan yang ditujukan untuk memujudkan mencapai tujuannya. Hal Ini ditetapkan sebagai berikut dalam ayat 38 dari QS An-Nisa, “Dan barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu teman yang seburuk-buruknya. (QS. 4:38)”. orang-orang yang Beriman harus berhati-hati untuk menghindari jatuh ke dalam perangkap tipu daya setan dan tahu semua perintah yang dikeluarkan oleh Allah. Karena orang-orang beriman bertindak dalam pengetahuan bahwa semua panggilan datang dari Allah dan melihat kebaikan dan keindahan yang besar dalam hal ini, Mereka menyadari bahwa mereka sedang diuji pada saat itu dan memilih jalur selaras dengan Al Qur'an. Dengan cara yang sama bahwa kita tidak sengaja melompat ke sebuah lubang di jalan atau masuk ke dalam amukan api, sehingga orang harus tidak menghiraukan bisikan-bisikan setan yang tidak pernah menyadari telah berjalan menyusuri jalan ke neraka yang telah mengundangnya.
Dengan membuat tidak ada alasan untuk mematuhi Allah yang telah diungkapkan secara nyata kebenaran tersebut dalam Al Qur'an, orang-orang beriman menyadari berbagai sarana yang Setan telah coba untuk mendekati mereka adalah ujian yang diciptakan oleh Allah dan segera mengambil bentuk perilaku yang terbaik sesuai dengan Qur'an. Mereka tahu bahwa satu-satunya cara untuk menjadi Hamba yang baik adalah dengan mematuhi Al-Qur'an dan Nabi kita (SAW), dan selalu berakhlak baik agar layak masuk surga.
Sumber: harunyahya

Jumat, 13 April 2012

BAGAIMANA MEMAHAMI AYAT ALLAH DI ALAM


Dalam Alqur'an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak mengenali atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya.
 
Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu "…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Aali 'Imraan, 3:190-191)
 
Di banyak ayat dalam Alqur'an, pernyataan seperti, "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?", "terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal," memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah telah menciptakan beragam ciptaan yang tak terhitung jumlahnya untuk direnungkan. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini:
 
Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16:11)
 
Marilah kita berpikir sejenak tentang satu saja dari beberapa ciptaan Allah yang disebutkan dalam ayat di atas, yakni kurma. Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada.
 
Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon? Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna.
Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak
sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.
 
Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya, terdapat kecerdasan mengagumkan dalam apa yang dilakukan oleh biji. Namun, apakah sumber kecerdasan tersebut?
Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa?
 
Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini ada dalam pengetahuan Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak terbatas. Dalam sebuah ayat disebutkan:
 
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al-An'aam, 6:59).
 
Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai tumbuh-tumbuhan baru. Dalam ayat lain Allah menyatakan:
 
Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (QS. Al-An'aam, 6:95)
 
Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana", maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah SWT.
2007-06-08 17:12:50 


Sumber: harun yahya

TIDAK ADA PERUBAHAN DALAM AL-QUR'AN


Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian (Surat Nuh: 13-14).
Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (Surat Al-Insan: 1)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur(1536) yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (Surat Al-Insan: 2)
Kawannya (yang mu'min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (Surat Al-Kahfi: 37)
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Surat Al-Hajj: 5)
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (Surat Al-Ghafir atau Surat Al-Mu’min: 67)
dari air mani, apabila dipancarkan.(Surat An-Najm: 46)
 (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". (Surat Shaad: 71)
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Surat Al-Baqarah: 30)
Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu binatang ternak…” (Surat Az-Zumar: 6) 
Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Surat Al-Mulk: 6) 
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? (Surat Nuh: 16)
Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan (Surat Nuh: 19),
Dia (Musa) berkata (pula): "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu".(Surat Asy-Syuara: 26)
Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu. (Surat Ad-Dukhan: 8)
Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".(Surat Al-Baqarah: 133)
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. (Surat Nuh: 17-18)
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (Surat Al-Qashash: 68)
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Surat Al-Fathiir: 1)
Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina". Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.(Surat Al-Baqarah: 65-66)
Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi [424] dan (orang yang) menyembah thaghut ?". Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.(Surat Al-Maaidah: 60)

Selasa, 27 Maret 2012

Penjelasan Kecepatan Cahaya dalam Al-Quran


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbKYRAtGDf-DFFguFBoAuRbRtXNzLxLw5g-OFU488V9vbRd4kon2vslgRfqY7QsMsM_JsMIB4jKqQSHN9pdov_eEyT1mryfpnLPFNmPugpW9_6ffeKIyhamLV5drqvmdcskd1B4Uok2s8/s229/Allah.jpegPercaya ga Al-Qur’an bisa menghitung kecepatan cahaya ?
Kita mulai dari pengertian 1 meter standar yaitu “jarak yang di tempuh cahaya selama 1/299792458 di dalam ruang hampa” dari pengertian diatas bisa diartikan kecepatan cahaya adalah 299792458 m/s atau 299792.458 km/s(kita biasa membulatkannya ke 300000 km/s)
Sekarang perhatikan Q.S As-Sajadah : 5 yang artinya “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu”.Apa yang dimaksud “urusan” di atas?.Ahli tafsir mengartikan urusan di atas berarti berita yang dibawa malaikat, kita tahu malaikat itu berasal dari cahaya sehingga dapat diartikan bahwa “si urusan” adalah malaikat (cahaya).

Dari ayat di atas dapat kita rumuskan 
jarak yang di tempuh malaikat = perhitungan waktu yang kita pakai dikali 1000 tahun (12000 bulan), sehingga :

C x t = 12000 x d2
C = kecepatan cahaya 
t = waktu yang di butuhkan cahaya menurut Al-Qur’an (satu hari)
d2 = Panjang rute edar bulan selama satu bulan

1 hari = 23 jam 56 menit 4.0906 detik = 86164.0906 detik, kembali ke rumusan pertama…… 

C x t = 12000 x d2, (d2 = V x T)
V = rumusan ini diusulkan oleh Einstein V = Vb x cos a
a = sudut yang dibentuk oleh revolusi bumi selama satu bulan sidereal = 26.92848 derajat, 
T = Periode revolusi bulan

Ct = 12000 x V x T, (V = Vb cos a)
Ct = 12000 x Vb x cos a x T, (bulan bergerak melingkar Vb = ω R = 2πR/T)
Ct = 12000 x 2πRT/T cos a (T saling menghilangkan), maka
Ct = 12000 x 2πR cos a 
t = 86164.0906 sekon
R = Jari – jari revolusi bulan 384264 km 
a = 26.92848 derajat, maka

Ct = 12000 x 2πR cos a
Ct = 12000 x 2 x 3.14159 x 384264 x cos (26.92848), (t = 86164.0906 sekon)
C = 12000 x 2 x 3.14159 x 384264 x 0.891572/86164.0906
C = 299792.359 km/s (klo ga percaya itung sendiri)
Sekarang bandingkan dengan kecepatan cahaya yang sekarang diakui secara internasional di atas.Allahu Akbar…


Download : Cahaya dalam Al-Quran


Sumber: knowledge